"Saya seorang gadis yang berambisi tinggi. saya merupakan anak yang
kedua dari tiga bersaudara dan berasal dari keluarga yang sederhana. Saya adalah satu-satunya anak perempuan
dari tiga bersaudara,
Ayah saya telah meninggal beberapa tahun yang lalutepatnya
pada tangggal 5 Jaanuari 2012. Yakni pada saat saya masih duduk di bangku kelas
3 SMP. Dia meninggal disebabkan oleh penyakit yang telah lama di deritanya. Hal
tersebut pernah membuat saya patah semangat untuk terus melanjutkan pendidikan.
Karena saya berfikir bahwa jika saya tetap melanjutkan pendidikan maka
darimanakah biaya pendidikan tersebut diperoleh? Sedangkan ibu saya hanya
bekerja sebagai petani, penghasilannya juga hanya cukup untuk kebutuhan
sehari-hari dan saya tidak mungkin akan membebaninya lagi. Sejenak saya
termenung dan saya bingung harus berbuat apa, sedangkan saya ingin sekali
melanjutkan sekolah dan mewujudkan impian ayah saya. Karena mengingat keluarga
kami adalah keluarga yang tingkat pendidikannya rendah . oleh sebab itu, saya
ingin sekali dapat mengubah nasib keluarga kami yang seperti ini, tetapi
masalah utamanya adalah soal keuangan, saya tidak tahu bagaimana caranya agar
dapat menghasilkan uang untuk mewujutkan itu semua. Akhirnya terlints di fikiran
saya untuk sekolah sambil bekerja, walaupun mungkin kebanyakkan orang
menganggap remeh pekerjaan itu,tetapi tidak menjadi penghalang bagi saya karena
saya tetap berpegang teguh pada apa yang telah memotivasi-kan saya. Dan saya
tidak membebankan orang tua saya lagi. Cukup sampai disini saja saya
membebankan mereka semua, saatnya giliran saya yang harus menggantikan semua
jerit payah serta keringat yang diteteskan hanya untuk anak-anaknya. Saatnya
saya yang menggantikan semua itu.
Sejak saat itu sampai sekarang saya masih bertahan dengan
pekerjaan berharga saya itu. Penghasilanya tidak banyak, hanya cukup untuk uang
jajan dan cukup untuk menanggung uang SPP setiap bulannya.
Ketika hari libur tiba, saya memanfaatkan waktu itu dengan
bekerja sebagai Buruh Lapangan (BL) di perusahaan terdekat, dan itu yang
menawarkan adalah tuan rumah tempat saya tinggal. Dan penghasilannya saya
gunakan untuk membayar daftar ulang sekolah saya.
Terkadang rasa iri hati juga timbul ketika saya melihat
teman-teman saya yang tinggal satu rumah dengan orang tua tercintanya dan dapat
memanfaatkan waktu liburannya dengan bersenang-sennang bersama keluarganya, dan
mereka bisa meminta apayang mereka inginkan pada orang tuanya tanpa harus
memikirkan bagaimana cara orang tuannya memperoleh itu semua. Merekapun selalu
diberi kasih sayang yang lebih oleh orang tuanya. Dan betapa beruntungnya
mereka memiliki itu semua. Tetapi mereka semua tidak bisa memanfaatkan moment
itu semua dengan baik.
Hal tersebut membuat saya termotivasi untuk terus berusaha
agar bisa membahagiakan orang tua saya. Saya sangat ingin suatu saat nanti saya
bisa membanggakan Ibu saya serta membuktikan kepada Almarhum Ayah saya bahwa
saya benar-benar melakukan semuanya,semua yang ia impikan dulu waktu dia masih
bisa bernafas dan menghirup udara segar. Dan saya juga ingin melihat Ibu saya
bahagia dimasa Tuanya, meskipun tanpa ada Ayah disampingnya. Dan saya yakin,
apapun yang keluarga kami rasakan di dunia ini, baik itu senang ataupun susah Ayahku juga pasti ikut merasakan semua
itu."
|
Kamis, 14 Januari 2016
Hidup Adalah Sebuah Perjuangan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar